#Repost @nabilahhayatina

Ada banyak warna muslimah dalam kehidupan. Ada banyak panutan berkepribadian. Ada banyak sentuhan dalam perkenalan. 
Kita bersapa dengan kaum muslimah terus berkarya didunia kepenulisan, masak-memasak, atau ada juga yang berkarya didunia perekonomian sampai perpolitikan. 

Warna lain, ada juga yang memilih menjadi warna dan mewarnai sepak terjang karier didalam pernikahan, menjaga dan mendidik keturunan. Sambil menjaga kehormatan, amanah dari suami kesayangan. 
Bukan masalah. Semua bisa memilih warna kesukaan dan cara menemukan warnanya. Bahkan wanita idaman dan mengagumkan dahulu sudah duluan mencetak bintang terang benderang. 

Siti Khadijah ra, wanita pebisnis sukses sepanjang zaman. Maka, sesiapa wanita siap dan mau berkarya dalam warna perniagaan, idolakanlah Sayyidah Khadijah. Ianya mampu menempati warna sesuai tempatnya. Ianya istri, ibu sejuta ummat. 

‘Aisyah ra, bahkan bunda kita hapal Quran dan ribuan hadis dalam kejapan. Maka, sesiapa wanita berani menjdi warna dlm akademisi dan pendidikan, berkacalah kecerdasan agung bunda ‘Aisyah. 

Asma binti Yazid, berani pasang badan, jubir pertama kaum muslimah. Maka, sesiapa pasang badan semacam diplomat atau jubir, telaahlah ‘Asma binti Yazid. 

Adapula Khansa, ibu para sastrawan. Lembut hati, tegar menjemput syuhada putra-putra tercinta. 

Nasibah binti Ka’ab, gesit dan lihai menyabit leher musuh. Patutlah wanita muslimah berani mnjdi warna kemiliteran atau pertahanan, beranilah pancang nama Nasibah sebagai pegangan. 

Mereka semua, wanita memiliki warna indah nan seimbang. Dalam langkah penuh semangat juang Umat dipertahankan. Penuh perlindungan. Dalam jiwa, ada kerinduan membuncah, akan pertemuan dengan Tuhan.

Apapun cara dan warnanya, diluar rumah atau dalam rumah. Nilai utama sebuah warna adalah keaslian dan keabadiannya. Serta keindahan dan keselarasan dan tujuan. Kebermanfaatan umat.

“Wanita muslimah  merupakan bagian tak tepisahkan dari umat ini, sudah sepantasnya bangkit untuk berkontribusi dalam mpertahankan islam dan umatnya. Kata; malas, tidak ada waktu,belum cukup ilmu, capek, lemah,lesu, sudah tua, yang muda saja, dan seribu satu alasan lainnya hanya muncul karena dua kemungkinan.. “Cinta dunia atau Takut Mati..”

 – Ustadzah Yoyoh Yusroh –

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s