Naif

Aku belum bisa membayangkan bagaimana perasaanku nanti setelah tahu akhir dari perjuangan ini adalah: kamu lebih memilih yang lain. Aku belum tahu apakah aku akan ikut berbahagia atasnya atau justru sebaliknya. Aku juga belum tahu langkah apa selanjutnya setelah menelan kenyataan itu.

Yang kutahu betul adalah… sekarang aku sedang mengusahakanmu, dengan caraku. Dengan cara-cara yang mungkin kamupun tidak pernah menyadarinya.

Mungkin percakapan kita sederhana, hanya sebatas itu. Bahkan aku percaya banyak yang lebih dekat denganmu daripada aku. Tapi aku tidak akan berhenti begitu saja. Tidak akan berhenti sebatas percakapan singkat kita.

Aku akan selalu memulai percakapan dengan-Nya. Menceritakanmu, mimpi-mimpiku, keyakinanku dan yaa… tentang aku yang tak tahu banyak soal kamu tapi bisa begitu yakin bahwa kalau kita disatukan, bakal lebih baik, bakal lebih memberi manfaat untuk sekitar dibanding aku atau kamu yang sendiri saat ini.

aku naif ya?

Kupikir aku hanya terlalu keras mengusahakanmu. Tapi aku tidak takut kecewa atas perjuanganku. Toh kita tidak wajib menang dalam berjuang, kan?

Semangat hari ini dimanapun kamu berada! Selamat menebar kebermanfaatan!

 

Dikutip dari buku Menentukan Arah (Kurniawan Gunadi dan Aji Nur Afifah)

Advertisements

3 thoughts on “Naif

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s