#ceritaPKL: Epilog

Alhamdulillah.. akhirnya selesai juga masa PKL yang menguras emosi pada awalnya, yang menguras tenaga ditengah-tengah, dan yang menguras perasaan di akhir masa. huaaa

menuliskan jawaban yang kutemukan.. ehem..

jawaban yang kudapatkan sebagian besar berasal dari hasil pemikiran+perenungan selama PKL yang kerap disangka lagi melamun oleh mbak-mbak di pabrik.. bahkan temanku pun menyangka demikian -_-  *gak di kampus, gak di pabrik julukanku sama saja.. di cap sebagai tukang ngelamun zzz *mungkin ekspresi mukaku terlalu pongo sehingga mereka menyangka demikian 😀

Jika mengingat masa persiapan PKL atau jauh berbulan-bulan sebelum itu…

Siapa yang akan mengira aku akan ke solo, PKL di Sritex? Bahkan diriku sendiri tidak tertarik untuk PKL di jawa, dan saat teman-temanku mengincar perusahaan ternama aku malah tidak berniat…. *bukan karena apa-apa hanya saja sadar diri, tidak mau mengacaukan 😀 dan memang tidak mau saja, entah kenapa tidak tertarik. Dalam bayanganku perusahaan-perusahaan tsb telah rapih dan terorganisir.. rasanya sangat tidak cocok denganku yang sangat cuek dan asal-asalan… aku tidak mau menjadi penyebab tercorengnya citra kampusku…

Tapi takdirNya lah yang mendatangkan kesempatan itu.. dan mengubah keputusanku…

Setiap peristiwa, setiap hari bahkan setiap detiknya apapun dalam hidup khususnya yang terjadi pada diri sendiri adalah hal unik yang cukup menarik untuk dijadikan objek penelitian.. yang ternyata memiliki benang merah antara satu hal dengan hal yang lain… masa kini dengan masa lalu dan masa depan.

Dan pertanyaan terbesarku adalah : KENAPA DI SANA?

Dan dari jurusan garmen aku tidak sendiri, ada seorang temanku yang juga memilih PKL di sana.. teman yang dulu juga pernah melakukan perjalanan jauh ke Pare bersamaku.

Yang memunculkan pertanyaan lainnya : KENAPA DIA ?

Apapun jawabannya pastilah baik, yang akan membuatku menjadi lebih baik. Semoga kutemukan hikmahnya.. semoga.

Ku pernah membaca kalimat semacam quote yang berbunyi:

Sejauh apapun kamu pergi, jika memang takdir maka akan kembali.

Sekeras apapun kamu menghindar, jika memang takdir maka akan bertemu.

Quote diatas adalah jawaban singkat dari pertanyaan pertama, kenapa di sana?

Teringatku dulu di bulan mei *lupa, kalau bukan mei yaa juni* ada Kunjungan Industri (KI)Angkatan… ke Sritex dan aku gak ikut karena beberapa faktor…

Jawaban Panjangnya, hmm.. ku bagi dua : kenapa di Sritex? Dan kenapa di Sukoharjo?

Kenapa di Sritex?

Se-terkenal terkenal nya Sritex di pertekstilan Indonesia dan dunia… tidak berhasil membuatku melek akan perusahaan ini, sampai aku benar-benar masuk dan nyemplung ke dalamnya. PKL di sini membuat pengetahuanku akan perusahaan ini meningkat sebanyak 65% yang awalnya cuma 0,000001% HAHAHA 😀

Tidak perlu kubahas hal-hal teknis, bisa dibaca *di LKP*.

Hal non teknis.. hmm.. sejarah, sayang sekali belum kudapatkan informasi dimana dan bagaimana agar bisa mendapatkan buku biografi pendiri perusahaan ini (Karya untuk Indonesia). Hadirnya aku di pabrik ini, kurasa Allah ingin memperkenalkanku dengan alm. Memperkenalkan aku dengan sosoknya.. mengetahui perjalanan karir dan hidupnya.. intinya mengetahui, apapun.. dan mempelajarinya. hm

Hal-hal positif yang kudapatkan: aku berbaur, bergabung bersama para operator layaknya karyawan biasa., merasakan ketidaksenangan seseorang yang tidak senang, menjalani pilihan dan yaaa berbahagia akan hal kecil sederhana.. mirip-mirip sedang belajar ilmu kehidupan hmm..

Satu hal lagi, keluarga baru hehe.. ibu yuni, bu atun, mbak nanik, mbak yesno, mbok mul, Pak Widodo dll yang aku lupa namanya… Tidak bermaksud rasis, atau berpihak kepada suku tertentu, hanya saja mengenal mereka membuatku beranggapan bahwa orang jawa ternyata sangat ramah dan terlalu baik.. membuatku terharu dan berencana ingin dinikahi oleh orang jawa saja hihi HAHAHAHAHAAA 😀

Okey next question, Kenapa di Sukoharjo?

Hal yang sangat membuatku berat PKL di luar Bandung adalah, saat itu (re: oktober) aku sedang memegang dua buyer yang ingin membeli rumah, yang satu telah survey asset dan yang satu belum.. kurasa ku akan kesulitan mem follow up, dan mengurus dokumen seandainya closing jika akunya berada di luar Bandung. Alasan kedua, aku masih ada kewajiban di PPC (re: kelompok yang aku pegang). Alasan ketiga, aku ada agenda di Jakarta yang tiketnya aku beli dengan sangat tidak mudah… karena benar-benar menguji diri atas pilihanku sendiri. Keempat, krisis finansial.

Mengenai alasan pertama, Terkadang aku lupa bahwa Allah Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Jika memang rejeki mu untuk closing, maka sebesar apapun penghalangnya yaa akan closing juga.. karena mudah bagiNya memudahkan urusanmu. Kamunya aja kadang rewel, gak nurut apa maunya Tuhan ._. *jleeb

Alasan kedua, walau aku merasa tidak enak hati, meminta tolong bantuan temen PPC yang lain, kurasa mereka juga tidak keberatan.. akunya saja yang terlalu sungkan.. setidaknya aku pamitan sebelum berangkat.. mohon ijin untuk tidak hadir selama 3 bulan kedepan.

Alasan ketiga, kurasa aku harus mengikhlaskan… dan agar tidak berakhir sia-sia ku berikan kepada temanku.

Alasan keempat, inshaaAllah ada hujan duit 😀

Tentang keberadaanku di Sukoharjo… mungkin Allah ingin memberitahuku sesuatu..

Salah satunya tentang “kamu memilih orang yang benar” hahaha 😀

Ceritanya begini, lupa tanggal berapa, ingatnya hari minggu.. aku dan temenku berencana ke Solo berdua.. rencananya naik angkutan umum.. tapi seorang teman yang kita kenal dari kampus yang lain, yang juga se departemen saat PKL menawarkan diri menjemput dan menemani perjalanan kita hari itu.. akhirnya kita bertiga.

Destinasi pertama, pasar klewer.. pengen survey harga ceritanya.. berhubung kita datengnya kepagian dan belum ada yang buka.. akhirnya kita ngadem di suatu tempat sambil minum dawet, makan bakpia.

Mengobrol tentang a, b, c ,d dan blablaa.. karena aku penasaran, akhirnya ku bertanya.. “dulu (re: saat PEMILU) di Solo banyak yang memilih Jokowi gak?”

Dia kurang tahu karena saat itu dia tidak sedang berada di Solo.

Tapi pernyataan jujurnya membuatku terkesima.., kurang lebih kalimatnya begini,

“Sejak Jokowi jadi wali kota aku sudah gak malu lagi mengakui asalku”.

Membuatku bertanya heran,”loh kenapa?”

“Sebelum sekarang Solo berantakan, dulu aku malu mengakui aku dari solo”.

Dibawah kepengurusan Jokowi, Solo menjadi lebih baik menurut pendapat dia.. banyak hal yang dibenahi, banyak hal yang dirapihkan.. Bisa kulihat dia jujur dan memuji dengan fakta.. Membuatku lega, mendukung Pak Jokowi membenahi Indonesia adalah keputusan yang benar.

Dan Solo sekarang dipegang oleh seseorang yang dulu menjadi wakilnya Jokowi saat menjadi wali kota, tambahnya. Aku hanya ber ooh ria. Setidaknya Solo baik-baik saja dan diteruskan oleh orang yang benar lagi.

Hikmah lainnya kenapa di Sukoharjo, Sepertinya Allah ingin menguji perasaanku yang sangat mudah terbolak-balik agar mengetahui mana yang harus dipertimbangkan dan mana yang harus diabaikan. Sekaligus mungkin ini caraNya, dengan menjauhkan diriku dari siapapun.. walaupun masih terkoneksi dengan adanya internet.. setidaknya jauh dalam jarak 😀

Banyak hal baper yang membuatku terbang melayang ke angkasa tapi sekarang kuputuskan untuk mengabaikan saja… karena jika berlanjut yang ada aku malah khawatir dan galau yang berkelanjutan -_- aku tidak mau berpersepsi apapun…

Hal yang bisa kulakukan untuk mereka hanyalah berdoa, semoga berada dalam jalan yang lurus aamiin.. walau tak bersama setidaknya kita sejalan.. daripada setujuan tapi tak sejalan, ya kan? Karena fakta bahwa kita sejalan membuatku lega meski ku tak bersamamu eaaa wkwkwk…

*aku udah males ngetik sebenernya ._. tapi nanggung ini pembahasan terakhir tentang pertanyaan kenapa dia?

Sebenarnya tak masalah, akhir-akhir itu (re: sebelum PKL) dia salah seorang yang menguji kesabaranku.. maksudku kita berteman dekat tapi sering berselisih paham, saling menimpali, jarang mengalah.. terlebih lagi aku sering membuatnya kesel selama di Pare.. omonganku yang terlalu nyablak.. menyakiti hatinya kala itu.

Dan aku pun begitu, merasa tersinggung dengan perkataannya, khususnya saat mengikuti seminar property yang pernah kami ikuti di Jakarta. Benar-benar membuatku baper. Dan menjauhkan diriku darinya.., sejak saat itu kuputuskan untuk tidak banyak berkomunikasi dengannya.

Mengetahui bahwa selama tiga bulan kedepan ku akan bersamanya, membuatku hmm.. entahlah.. semoga aku mampu menahan diri dan melewati ujian ini.

Seperti yang kuduga, 2 minggu pertama benar-benar menguji perasaan..

Kurasa, Allah ingin aku memperbaiki diri dengan dia sebagai pengujinya.. dan belajar  memahami teman yang sesama jenis terlebih dahulu sebelum belajar memahami makhlukNya yang berlainan jenis dariku. Hmm sepertinya begitu.

Akan panjang jika kurincikan… sebenarnya telah kutuliskan beberapa kali saat aku baper karenanya.. tapi telah kuhapus karena lebih baik tidak dituliskan, dan tidak terbaca.. biarkan saja berlalu tanpa dikenang.. lagipula isinya enggak banget.. ya mending di hapus.

Dan kabar baiknya adalah InshaaAllah aku lulus ujian hahaaha 😀

Kunci sebuah hubungan adalah komunikasi..

Katakan jika kamu kurang senang, tersinggung,marah, kesel, bad mood, bahagia, senang, terharu, dsb… dengan mengatakannya berhasil mampu meluluhkan hati dan membaikkan situasi.. –kesimpulanku berdasarkan pengalaman 😀

 

SEKIAN!

*sebenarnya ada beberapa hal yang terlewat sepertinya tapi yasudahlah, akupun males ngetiknya~

Advertisements

2 thoughts on “#ceritaPKL: Epilog

  1. veera says:

    Pas bilang udh males ngetik dan katanya nanggung eh lanjutnya banyak bangeett wkkk. Hmm. Kalo jodoh, kalian akan bertemu lagi ketiga kalinya (?) 😓

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s